Inteligence is the ability to put into effect what is in your mind.

F. Scott Fitzgerald

Apakah kecerdasan itu?

Pertanyaan ini telah berkecamuk di dalam pikiran saya sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Tentu saja pada masa itu saya tidak menggunakan istilah kecerdasan.   Saya lebih sering berpikir dan banyak menggunakan istilah pandai atau pintar.

Pikiran ini dipicu oleh banyak peristiwa yang saya lihat di sekeliling saya. Baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, atau orang-orang yang saya kenal melalui apa yang saya baca. Yang selalu muncul dalam pikiran saya adalah, “Apa sih yang membuat seseorang itu bisa berhasil dalam hidupnya?” Ada orang yang lahir dari keluarga miskin lalu menjadi sukses secara finansial. Sebaliknya ada juga orang yang lahir dari keluarga kaya tapi akhirnya jatuh miskin. Ada orang yang lahir dari keluarga tidak mampu tapi sukses di sekolah dan juga dalam hidup. Ada orang yang lahir dari keluarga kaya tapi sama sekali tidak berprestasi di sekolah dan di kehidupan mereka. Ada yang sedari kecil sudah terlihat sebagai calon orang sukses. Sebaliknya, ada juga yang sedari kecil sudah terlihat sebagai calon orang gagal.

Dalam pemikiran yang masih sederhana, karena saat itu saya masih di SD, saya berusaha mencari jawabannya melalui apa yang disampaikan oleh orang tua saya dan oleh guru-guru di sekolah. Mereka selalu berkata kepada saya, “Nak, belajar yang rajin biar berhasil.” Dari apa yang mereka sampaikan, saya akhirnya menyimpulkan bahwa seseorang harus pintar kalau mau berhasil.

Pemikiran ini terus berlanjut hingga saya duduk di bangku sekolah menengah dan di perguruan tinggi. Pada usia ini saya bisa berpikir secara lebih mendalam dan melihat dari berbagai sudut pandang. Sewaktu di bangku kuliah, saya melihat ada teman kuliah yang prestasi akademisnya sangat bagus dan mereka sukses dalam kuliah dan hidup mereka. Ada teman yang juga sangat pintar secara akademis, tapi begitu menyelesaikan pendidikannya dan terjun ke masyarakat, ternyata hidupnya tidak sesuai dengan kepintaran mereka di sekolah alias biasa-biasa saja. Ada teman yang sekolahnya biasa-biasa saja, hidupnya juga biasa-biasa saja. Ada teman yang biasa-biasa saja prestasi akademisnya sewaktu di perguruan tinggi, tapi ternyata kini hidupnya sangat sukses.

salah satu sahabat karib saya, teman “nyontek” saya sewaktu di bangku kuliah, kini telah menjadi seorang pengusaha kaya raya. Padahal saya tahu persis, prestasi akademisnya biasa-biasa saja.

Setelah mengamati semua kejadian ini, saya akhirnya mengerti bahwa apa yang disampaikan oleh guru dan orang tua saya tidak tepat, kalau tidak mau dikatakan salah. Seperti yang mereka katakan pada waktu saya masih kecil, “Sekolah yang rajin biar pintar (cerdas). Nanti bisa sukses.”

Namun, apakah sebenarnya yang menjadi tolak ukur kecerdasan? Orang dengan kriteria apa yang dapat dikatakan sebagai orang yang cerdas atau memiliki kecerdasan yang tinggi? Pertanyaan ini yang terus saya cari sampai saat ini. Sekarang, setelah saya terjun ke masyarakat menjadi pengusaha dan kemudian menjadi seorang master di bidang pelatihan dan aplikasi metodologi sistem belajar yang dipercepat atau accelerated-learning, saya selalu menanyakan hal yang sama kepada setiap orang yang saya temui. Baik itu saat berbincang biasa, saat bertukar pikiran, saat konsultasi, maupun saat saya membuat seminar dan lokakarya atau pelatihan.

Dari berbagai jawaban yang saya dapatkan, kata “cerdas” atau “kecerdasan” pada umumnya diartikan sebagai berikut: