Keinginan & merajuk

Berapa banyak diantara kita yang merajuk berkepanjangan hanya gara2 orang tua menolak membelikan telepon genggam, laptop, sepeda motor, nonton atau keperluan lainnya. Dan itu terkadang bukan rajukan sederhana, beberapa malah boikot tidak mau bicara dengan orang tuanya, menutup pintu kamar seharian, tidak mau disuruh ini-itu, hingga melawan nasehat2.

Berapa banyak diantara kita yang ngambek, berpikir pendek, kenapa orang tua susah sekali membelikan sesuatu yang menurut kita biasa2 saja, murah2 saja. Bukankah teman2 di sekolah punya, bukan teman2 melakukan hal yg sama. Kenapa saya tidak boleh. Dan itu terkadang bukan ngambek sederhana lagi, beberapa malah berburuk sangka, orang tua tidak sayang lagi, mereka tidak mau peduli.

My dear, jika kita masih remaja/sekolah/kuliah, dan menemukan situasi ini, tentu saja itu bisa dipahami. Rajukan kalian. Ngambek kalian. Bisa dipahami. Silahkan saja dilakukan, namanya juga kesal, tapi jangan pernah berlebihan.

Ingatlah selalu, jika orang tua kita benar memang mampu, tidak semua kata ‘Tidak’ dari mereka berarti mereka pelit, tidak sayang lagi. Boleh jadi kata ‘tidak’ itu adalah simbol betapa sayangnya mereka dengan kita. Belum masanya memiliki benda2 yg kita inginkan, belum tiba waktunya melakukan hal2 yg kita maui, dan berbagai alasan lain yg tidak kita ketahui. Ada banyak sekali contoh benda2/hal2 yg kita inginkan tersebut malah merusak kita. Kalaupun kita yakin bisa bertanggungjawab atas permintaan tersebut, boleh jadi juga kata ‘tidak’ dari orang tua untuk mendidik kita lebih mandiri, belajar berhemat, belajar prihatin. Hidup ini bukan seperti dongeng, apa yg kita inginkan seketika tersedia.

Apalagi jika orang tua kita ternyata tidak mampu. Bagaimana mungkin, sejak kecil kita dibesarkan penuh kasih sayang, mereka bahkan rela makan setelah kita makan, beli pakaian setelah kita dibelikan pakaian, istirahat setelah kita beristirahat, bagaimana mungkin kata ‘tidak’ mereka karena tidak peduli dengan keinginan kita, tidak sayang lagi. Kalian tahu, setidak masuk akal apapun permintaan kita, itu tetap dipikirkan oleh mereka, beberapa saat menjelang tidur, mereka menghela nafas panjang, berdiskusi, satu-dua malah tidak bisa tidur memikirkan keinginan anak2 tersayang. Kita saja yg tidak tahu–karena orang tua tidak menunjukkannya.

Maka, jangan tambahi beban pikiran mereka, my dear. Kita tidak perlu jadi anak yg super. Mandiri sejak kecil, bisa mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak perlu. Cukuplah dengan menjadi apa adanya seperti sekarang, terus sungguh2 belajar, lantas tutup pintu keinginan yg berlebihan. Kita tetap bisa jadi anak yg keren di sekolah tanpa telepon genggam canggih, pakaian apalah, sepatu apalah, poster/buku apalah, kendaraan, dsbgnya. Toh, saya berani memastikan, di sekitar kita, lebih banyak anak2 yg bahkan hanya memakai sepatu itu2 saja selama bertahun2, tas itu2 saja, dan mereka tetap semangat sekolah.

Bersyukurlah dengan apa yg dimiliki hari ini. Maka semoga, Tuhan akan memberikan kesempatan memiliki masa depan yg lebih baik. Karena, baiklah, akan sy beritahu sebuah rahasia kecil, camkan baik2: banyak sekali orang dewasa di sekitar kita, yang tidak pernah bersyukur atas apa yg dimilikinya hari ini, maka Tuhan, menutup kesempatan memiliki masa depan yg lebih baik, bahagia dan tenteram untuk mereka.

— Darwis Tere Liye – “keinginan & merajuk” Oct. 16. 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s