Karma Kata

Sebutan Monas di hari-hari ini hampir selalu dikaitkan dengan nama Anas Urbaningrum. Bukan karena dua kata itu kebetulan mengandung kesamaan, tapi karena konteks pengucapan yang pernah ada, yaitu “gantung saya di Monas”. Itu kata yang diucapkan Anas saat itu demi meyakinkan publik bahwa dugaan korupsi itu menurutnya tidak benar.

Benar atau tidak itu soal yang tidak menarik untuk dikaji di rubrik ini. Jauh lebih menarik untuk mengamati perjalanan kata-kata itu, karena kata punya rutenya sendiri. Mulut hanya alat produksi kata-kata, bukan pengendali. Begitu kata diucapkan, si pengucap akan kehilangan kekuasaan atas kata-katanya sendiri. Anas tentu tidak membayangkan kalau perjalanan kata-katamya akan menjadi seperti ini. Begitu uga saat hakim membuat metafora “seperti ustad di kampung maling”, untuk mengiaskan sebuah konteks persoalan dalam kiasan.

Tapi apa jadinya jika yang kiasan dan yang nyata tidak mau dibedakan. Secara logis keduanya berbeda. Tapi di pasar bebas kata-kata, yang logis dan yang tidak bisa diatur sekehendaknya. Metafora itu menyinggung sebagian kalangan. Persoalannya siapa ustad dan siapa malingnya.

Yang tersingung akan melihat kata maling dalam arti yang sebenarnya.

Iman kyai saja bisa naik bisa turun. Kiasan ini sedang mengiaskan kemungkinan satu dengan yang lain. Soal iman turun naik bisa menimpa siapa saja, apakah kayi atau petugas pajak.

Menyinggung soal pajak, sulit untuk tidak menyebut nama Gayus. Entah butuh berapa lama untuk menghentikan konotasi antara Gayus dengan persekongkolan pajak. Pertama, karena skala persoalannya yang besar, kedua karena usaha Gayus, sambil di tahanan ia bisa menonton tenis di Bali.

Inilah mengapa ingatan publik yang mereda memanas lagi. Begitu khas kududukan Gayusdengan pajak, sampai-sampai kondektur bus berteriak “Gayus, Gayus..” ketika berhenti di kantor pajak. Guyus pasti tak menyangak jika namanya akan berkembang sejuah ini.

Begitu erat kaitan kata dan karma. Tegasnya, karma kata itu memanng ada walau ini bukan soal yang perlu dicemaskan. Karena karma baru bekerja setelah ada konteks pendorong yang ada disebaliknya. Maka pilihlah selalu konteks yang jauh dari bahaya, sehingga kata itu appaun bunyinya, atau yang kasar sekalipun, menjadi tidak berbahaya.

(PrieGS/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s