Senyum Orang Gila

Saya suka melewati jalan itu. Salah satu daya tariknya adalah karena di situ mangkal orang gila yang selalu tersenyum. Kesan pertama saya ialah, betapa senyum itu selalu memberi kesejukan bagi penontonnya, tak peduli apakah ia datang dari orang gila. Kedua, betapa senyum  selalu mencerahkan wajah pelakunya.

Meskipun orang itu jelas-jelas telah divonis sebagai gila, tetapi karena selalu tersenyum, ada gambaran damai di wajahnya. Ketiga, inilah yang menurut saya utama: saya yang merasa waras saja, jarang tersenyum  sebanyak itu dan semurni itu. Baik secara kuantitas maupun  secara kualitas, senyum saya jelas bukan tandingannya.

Ada memang banya senyum kuantitatif di wajah saya. Tetapi itu pun jumlahnya tak seberapa. Yang tak seberapapun, itu berisi senyum-senyum yang terpaksa. Terpaksa sok sabar, sok  baik dan sok ramah. Keadaan sok ini membuat diam-diam batin  saya malah terancam lelah. Bibir saya tersenyum tetapi hati  saya melayang entah ke mana.

Senyum itu, sejatinya nyaris lahir dari ruang hampa. Jadi, senyum kuantitatif  ini cepat  sekali menghilang dari  wajah saya. Secepat itu datangnya,  secepat itu pula perginya tanpa meninggalkan jejak apa-apa. Sungguh berbeda dari senyum orang gila yang seperti menetap selalu di bibirnya.

Selebihnya,  wajah ini kembali tertarik untuk melayani soal-soal yang membuat bibir cemberut  dan wajah berkerut. Pagi hari, cukup hanya dengan membaca koran pagi, kening ini sudah  mulai mengernyit. Ada artis yang berdandan sebagai wanita solehah cuma gara-gara hendak mencalonkan diri sebagai petinggi dan ketika kalah cuma kembali pada dandanannya yang asli.

Atau setiap hari ada saja dikabarkan orang mati karena menenggak oplosan, sebuah  kematian yang pasti tidak membanggakan bagi keluarga yang ditinggalkan.  Dan intensitas ketegangan di wajah ini bisa  ditingkatkan jika kita mau menonton televisi. Semua acara lengkap di dalamnya, mulai dari yang mengundang  kejengkelan hingga kemarahan.

Jika senyum kuantitatif saja tak seberapa jumlahnya,  lebih langka lagi pasti jumlah senyum kualitatif di wajah saya. Ia hanya datang kadang-kadang saja. Tergantung apakah hari sedang cerah. Tetapi jika rezeki sedang seret, tanggal tua, kebutuhan menumpuk, kok datang seseorang hanya untuk minta sumbangan, bisa mengepul uap di kepala saya. Tetapi itupun sudah sebab yang serius. Padahal untuk kesal, saya ini tak butuh penyulut yang  serius.

Hanya karena waktu sudah mendesak, dan itupun karena kesalahan saya sendiri, istri yang bergerak terlalu lambat, anak-anak yang masih sibuk dengan ini-itunya, sudah menyulut kemarahan saya. Padahal  jika pun saya benar-benar telambat, dunia ini masih baik-baik saja. Saya tidak akan dipecat dari pekerjaan apalagiketerlambatan ini tidak ada hubungannya dengan pecat-memecat. Keadaan ini hanya karena dorongan instink saya agar segera bisa  sampai ke tujuan.

Jadi sikap buru-buru itu, lebih banyak tidak disebabkan oleh waktu, tetapi oleh perasaan saya sendiri. Rasa buru-buru itu memang seperti menetap di dalam sini. Ada banyak sekali persolaan hidup, termasuk di dalamnya adalah soal yang remeh-temeh cukuplah untuk mengusir senyum dari  wajah saya. Maka setiap melewati jalan, di tempat orang gila itu mangkal, saya seperti menemukan kembali senyum saya yang hilang.
(Prie GS/bnol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s